Orang asia pertama yang memiliki klub NBA

Erick Thohir Adalah Orang Asia Pertama Yang Memiliki Klub NBA

Pengusaha media asal Indonesia, Erick Thohir, menjadi orang asia pertama yang memiliki klub NBA ketika turut mengakusisi Philadelpia 76ers. Erick berharap, langkah yang dilakukannya akan membuka pintu untuk memajukan basket di Tanah Air.

Erick mengatakan, keterlibatannya di Sixers memang tidak lantas membuat pebasket Indonesia dapat berlaga pada NBA. Sebab, terdapat peraturan ketat bagi seorang pemain untuk meniti karier di Negeri Paman Sam itu. “Peraturannya sudah ada, yaitu lewat draft. Tapi, kalau apakah pemain Indonesia lebih mudah main di Amerika? Yes,” kata Erick.

Langkah yang dilakukan Erick adalah dengan menyekolahkan pemain yang masih berusia di bawah 16 tahun untuk bersekolah di Amerika Serikat. Pilihan dijatuhkan pada center tim nasional U-16 Indonesia, Vincent Rivaldi Kosasih.

Pebasket bertinggi badan dua meter tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemain besar di masa mendatang. Erick pun sudah menyatakan rencananya pada ayah Vincent yang juga mantan center timnas Indonesia, Liu Tjie Tek.

Vincent dipilih juga karena usianya masih muda. “Karena tidak mungkin mengirim pemain yang sudah kuliah. Kalau kirim pemain ke AS harus dari SMA. Masa SMA merupakan waktu bagi pelatih untuk melihat pemain-pemain berbakat,” ujar Erick.

Vincent diharapkan dapat bermain di Liga Basket Mahasiswa (NCAA) Divisi 1. “Mario Wuysang dulu main di NCAA Divisi 2, Arki Dikania Wisnu main di Divisi 3 NCAA. Saya bilang, ini bagus kalau bisa tembus,” kata Erick.

Tapi, Erick mengatakan, keberhasilan rencana ini tergantung pada kemauan Vincent. “Saya hanya membuka pintu. Bagaimana kesempatan itu bisa dimaksimalkan, semua berpulang pada pemainnya sendiri,” kata Erick.

Selain pengiriman pemain muda, Erick juga akan mengupayakan uji coba pertandingan antara tim Indonesia dengan tim di Amerika Serikat. “Karena itu, saya berharap ada semakin banyak orang seperti saya yang menciptakan kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dewan Regulator NBA menyetujui penjualan saham tim Philadelphia 76ers dari Comcast-Spectator ke sebuh grup yang dipimpin oleh Joshua Haris. Harris menggandeng Erick dan 13 partner lainnya untuk membeli saham Sixers seharga 280 juta dolar (sekitar Rp 2,46 triliun).

Selain Erick, sejumlah nama beken masuk dalam konsorsium ini. Seperti, pasangan Hollywood, Will Smith dan Jada Pinkett. Erick mengaku sangat senang memiliki sebuah klub yang berkompetisi di liga basket nomor wahid di dunia. “Saya suka bola basket, tapi tidak pernah terpikir atau mimpi punya tim NBA. Ini sangat luar biasa,” kata Erick.

Keterlibatan Erick dalam Sixers bermula ketika diundang menonton NBA All-Star 2011 di Staples Center, Los Angeles. Kala itu, seseorang mengenalkan Erick pada Jason Levien yang juga termasuk jajaran investor, Februari silam. “Dia menawari saya setelah mencari figur dari Asia yang memiliki bisnis baik dan cinta basket,” cerita Erick.

Setelah melakukan lima kali pertemuan yang digelar di Jakarta, Singapura, Los Angeles, dan New York, Erick akhirnya sepakat berinvestasi pada klub yang tiga kali juara NBA itu. Meski sudah menyiapkan dana, Erick dan konsorsium tersebut tidak lantas memiliki Sixers.

Sebab, NBA harus meneliti rekam jejak para investor. Pemeriksaan yang dilakukan NBA, yaitu untuk mengetahui apakah investor pernah mengalami kebangkrutan, terlibat kasus hukum, jenis bisnis, dan apakah terkait dengan perjudian.

“Jadi, pemeriksaannya bukan hanya siapa kita, tapi juga rekam jejaknya. Susah sekali approval itu. Enam bulan ini kurang enak tidur hingga satu pekan lalu saya dapat kabar,” tutup Erick bercerita.


No comments

Powered by Blogger.