Mengapa Pemain NBA Sering Pindah-Pindah Klub ?

Shaquille O'Neal telah membela 6 klub NBA berbeda sepanjang karirnya

Loyalitas nampaknya sudah menjadi sesuatu yang langka di NBA, sekalipun sifat itu ada dalam diri seorang pemain ada saja faktor eksternal yang mempersulit pemain tersebut untuk tetap bertahan pada klub yang ia cintai. Fenomena ini tak hanya terjadi pada para pemain buangan yang kalah berkompetisi dalam sebuah tim namun juga terjadi dikalangan pemain yang sejatinya sudah menjadi ikon dan simbol kebanggaan bagi pendukung klubnya.

Contohnya saja LeBron James yang meninggalkan Cleveland Cavaliers pada 2010 untuk bergabung dengan Miami Heat. Cavaliers merupakan klub asal kota kelahiran LeBron, para pendukung Cavaliers juga sangat mencintai LeBron. Namun LeBron ingin mencari apa yang tak pernah ia dapatkan bersama Cavaliers yakni gelar juara. Walaupun empat tahun kemudian ia menunjukkan balas budinya dengan pulang ke Cleveland dan bergabung kembali dengan klub yang telah membesarkan namanya itu. Yang terbaru ada Dwayne Wade, atlit kebangaan Florida yang memutuskan untuk hijrah dari Miami Heat ke Chicago Bulls. Dalam sebuah konferensi pers ia mengklarifikasi bahwa alasannya meninggalkan klub yang telah ia bela selama 13 tahun itu bukan semata-mata karena uang, melainkan minimnya intensitas yang dilakukan Heat semasa status free agency Wade. Di tahun yang sama Kevin Durant meninggalkan Oklahoma City Thunder untuk bergabung dengan Golden State Warriors.

Salah satu akar masalah dari fenomena pemain non-loyal sebenarnya sangat sederhana. Kebanyakan pemain yang masuk ke NBA punya klub impian masing-masing. Namun format draft nba membuat pemain-pemain paling potensial terpakasa bergabung dengan klub 'terpayah' pada musim sebelumnya. Dan seiring berjalannya waktu setelah pemain-pemain ini berkembang dan menjadi seorang Superstar kebanyakan akan pindah ke klub impian mereka.

Isu non-loyal bukanlah satu-satunya alasan banyak pemain berpindah-pindah klub. Faktanya, bertahan di suatu klub yang sama selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah bagi seorang pemain. Meskipun loyalitas ada dan keinginan untuk bertahan sangat kuat namun faktor eksternal seperti salary caps, pajak, rotasi tim, dan roda bisnis seringkali menjadi penghalang bagi seorang pemain untuk tetap bertahan.

Kobe Bryant adalah mantan pemain nba yang sangat beruntung karena loyalitasnya benar-benar terbayar. Disaat pemain berbakat lain harus mengawali karir dari klub non-unggulan, Kobe bisa menikmati musim pertamanya di NBA dengan klub historis Los Angeles Lakers. Awalnya memang Charlotte Hornets lah yang mendraft Kobe ke NBA, namun saat itu ia langsung di kirim ke Lakers dalam sebuah pertukaran pemain. Bersama Lakers, Kobe berkembang dan meraih 3 gelar juara secara beruntun di awal 2000-an. Kesetiaan kobe diuji pasca hangkangnya Shaquille O'Neal. Lakers terpuruk, hal ini juga diperparah dengan tidak adanya inisiatif dari klub untuk mendatangkan pemain berkualitas dan kembali bersaing meraih gelar juara. Pada 2007 Kobe dikabarkan meminta untuk hengkang, Chicago Bulls adalah tujuan yang disebut-sebut saat itu. Namun Kobe ternyata tetap bertahan hingga akhirnya manajemen Lakers menghadirkan Pau Gasol yang mampu membawa perubahan signifikan dalam tubuh Lakers. Perlahan namun pasti Lakers mulai bangkit, pada 2008 mereka mencapai babak final namun dikalahkan oleh Boston Celtics. Kegagalan tersebut dibayar lunas dua musim berikutnya, Lakers keluar sebagai juara pada 2009 dan 2010. Kobe sangat beruntung karena kesetiaannya pada Lakers terbayarkan dengan lima gelar juara, pencapaian yang sangat jarang.

Kobe Bryant, Pemain NBA yang Loyal

Loyalitas Kobe ini memiliki satu jawaban sederhana : 'Ia bergabung dengan Klub yang tepat'. LA Lakers punya sejarah yang manis, menjadi klub impian banyak pemain dan Kobe memulai karirnya langsung dari sini. Selain itu gelar juara yang juga menjadi impian banyak pemain juga ia dapatkan disini.

Ada juga alasan unik mengapa pemain nba saat ini senang berpindah-pindah klub. Dulu, sebelum adanya media sosial para pemain benar-benar benci dengan rival-rivalnya. Tak banyak pemain berbeda klub yang punya kedekatan di luar lapangan. Situasi ini menyebabkan mereka saling tidak suka dan bahkan tidak sudi bergabung dengan klub rival mereka dan tetap loyal pada klub yang dibelanya. Saat ini situasinya berbeda, kebanyakan pemain saling berteman baik secara langsung maupun melaui media sosial. Bermain bersama merupakan impian yang ideal bagi dua orang sahabat.

Kobe Bryant, Dirk Nowitzki, dan Tim Duncan adalah para pemain penutup dari Generasi X. Sebuah generasi yang lebih gigih ketimbang Genrasi Millenials. Keinginan untuk menjadi juara secara instan spertinya telah menjadi alasan sebagian pemain bintang berpindah-pindah klub.

No comments

Powered by Blogger.